Sejarah tidak selalu lahir dari kenyamanan. Kadang, ia muncul dari krisis yang memaksa manusia beradaptasi. Begitulah kisah Suku Guanches, penduduk asli Kepulauan Canary. Di balik lanskap indah kepulauan ini, tersimpan cerita bertahan hidup. Cerita tentang cinta, kelaparan, dan pilihan ekstrem.
![]() |
| Ilustrasi ist. |
Konon pada abad ke-14 dan ke-15, Kepulauan Canary dilanda kelaparan hebat, musim kering berkepanjangan menghantam sumber pangan. Panen gagal, ternak mati, dan wabah ikut menyebar. Kelaparan itu merenggut banyak nyawa, terutama dari kalangan perempuan.
Dampak bencana ini tidak hanya soal
makanan, struktur sosial Guanches ikut terguncang, jumlah perempuan menurun
drastis. Sementara populasi laki-laki justru lebih banyak bertahan. Ketimpangan
demografis pun tak terelakkan.
Situasi ini membuat komunitas
Guanches berada di persimpangan, mereka harus menemukan cara agar masyarakat
tetap bertahan, adat dan nilai lama mulai diuji oleh keadaan. Di sinilah
praktik poliandri mulai muncul bukan sebagai pilihan romantis, melainkan
strategi sosial.
Dalam praktik poliandri Guanches,
satu perempuan bisa menikahi beberapa pria, jumlahnya bahkan bisa mencapai lima
orang sekaligus. Hal ini terdengar ekstrem bagi dunia modern. Namun pada masa
itu, ini dianggap solusi rasional tujuannya jelas, menjaga keberlangsungan
komunitas.
Dengan poliandri, satu perempuan
menjadi pusat keluarga besar, anak-anak tetap lahir dan diasuh bersama. Tanggung
jawab ekonomi dibagi rata, tidak ada satu pria yang menanggung beban sendirian,
solidaritas menjadi kunci utama.
Para sejarawan mencatat praktik ini
sebagai adaptasi darurat, bukan tradisi turun-temurun sejak awal. Poliandri
lahir dari krisis bukan ideologi, ia tumbuh karena kebutuhan zaman, dan
perlahan diterima sebagai norma sementara.
Menariknya, praktik ini dijalani
dengan aturan adat yang ketat, tidak sembarang pria bisa menikah bersama, tentunya dengan kesepakatan
keluarga menjadi dasar utama. Konflik diselesaikan melalui musyawarah, bukan
dengan kekerasan.
Perempuan dalam sistem ini memiliki
posisi penting, mereka bukan sekadar simbol kesuburan dan mereka juga pengambil
keputusan rumah tangga. Hak dan tanggung jawab dijalankan seimbang, menunjukkan
kompleksitas peran perempuan Guanches.
Bagi masyarakat Guanches, keluarga
adalah unit bertahan hidup bukan hanya ikatan emosional semata, melainkan sistem
ekonomi dan sosial. Poliandri membantu menjaga stabilitas itu meski penuh
tantangan.
Catatan tentang poliandri Guanches
banyak ditemukan dalam sumber Eropa. Terutama setelah penjelajah datang ke
Canary, praktik ini sering disalah pahami sebagai penyimpangan, padahal konteks
sejarahnya sangat jelas. Ini soal bertahan dan juga bukan sensasi.
Dalam dunia modern, kisah ini
kembali diperbincangkan, terutama dalam kajian antropologi dan sejarah budaya,
ia menjadi contoh bagaimana adat bisa berubah dan adaptif menyesuaikan diri ditengah krisis, tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.
Kisah Guanches membuktikan bahwa
budaya tidak statis, ia bergerak mengikuti kebutuhan manusia. Saat hidup
terancam, norma bisa berubah namun tujuan utamanya tetap sama, menjaga
keberlangsungan hidup.
![]() |
https://www.sci.news/genetics/north-african-origin-guanches-05369.html |
Poliandri di Guanches tidak berlangsung selamanya. Ketika kondisi alam membaik, praktik ini perlahan ditinggalkan, struktur keluarga kembali ke bentuk monogami. Ini menegaskan sifatnya yang temporer bukan tradisi mutlak.
Namun jejak sejarahnya tetap
menarik untuk dikaji, ia membuka sudut pandang baru tentang relasi gender, tentang
peran perempuan dalam krisis dan tentang fleksibilitas adat, dalam menghadapi
tekanan zaman.
Di era media digital, kisah seperti
ini mudah disalah artikan. Judul sensasional sering menutup konteks sejarah, padahal
inti ceritanya sangat manusiawi tentang kehilangan dan adaptasi memilih untuk bertahan.
Suku Guanches sendiri kini sudah
banyak berasimilasi, jejak mereka tersisa dalam budaya dan arkeologi. Namun
cerita poliandri ini tetap hidup, sebagai pelajaran sejarah bagi generasi masa
kini.
Sejarah tidak selalu hitam dan
putih terkadang menjadi abu-abu dan kompromi. Poliandri Guanches adalah contohnya, pilihan
sulit dalam situasi genting yang lahir dari kebutuhan nyata.
Bagi anak muda, kisah ini relevan
untuk refleksi bahwa norma sosial bisa berubah. Namun empati harus tetap ada, tanpa
konteks sejarah yang kerapkali disalah pahami. Tanpa empati, budaya kehilangan
makna.
Poliandri di Guanches bukan ajakan,
bukan pula glorifikasi. Ini adalah fakta sejarah, yang harus dibaca dengan
konteks dan pemahaman utuh.
Di balik praktik ini, ada trauma
kelaparan, ada kehilangan keluarga, ada ketakutan akan punah. Keputusan besar
lahir dari situ, bukan dari kenyamanan.
Sejarah sering mencatat pemenang. Namun
kisah bertahan hidup seperti ini tak kalah penting, ia mengajarkan
fleksibilitas manusia dalam menghadapi krisis dan perubahan zaman.
Suku Guanches memberi pelajaran
berharga bahwa adat bisa lentur, tanpa kehilangan jati diri. Selama tujuan
utamanya kemanusiaan dan keberlangsungan hidup.
Cerita ini juga mengingatkan kita bahwa
perempuan sering menjadi penopang peradaban. Dalam diam dan tekanan, mereka
mengambil peran besar di saat krisis melanda.
Dalam konteks global, poliandri
Guanches unik, namun bukan satu-satunya di dunia. Beberapa budaya lain juga
mengenalnya, dengan alasan serupa, krisis dan ketimpangan.
Kepulauan Canary hari ini dikenal
sebagai destinasi wisata, namun masa lalunya menyimpan kisah kelam. Kelaparan, perjuangan
dan adaptasi, semua membentuk identitas wilayah ini, termasuk Suku Guanches.
Kisah poliandri ini adalah bagian
kecil dari sejarah besar, namun dampaknya signifikan, ia menunjukkan betapa
rapuhnya peradaban, sekaligus betapa kuatnya manusia saat bersatu.
Guanches mungkin telah berubah, namun
nilai adaptasi mereka tetap relevan. Di dunia yang penuh krisis hari ini, sejarah
memberi cermin untuk masa depan yang lebih baik.
Poliandri Suku Guanches bukan
legenda, ia adalah respons manusia terhadap bencana dan krisis yang melanda
wilayah itu, ditulis oleh sejarah untuk dipelajari oleh dunia. Dan dipahami dengan
empati.


.jpg)