Pagi itu kawasan Mustikajaya kota Bekasi terlihat cerah, aktivitas di halaman gudang PT Asha Nouva International terlihat lebih sibuk dari biasanya. Beberapa pekerja hilir mudik mengangkat karung-karung besar berisi rempah. Aroma lengkuas kering bercampur dengan wangi daun salam memenuhi udara. Tak jauh dari sana, seorang petugas Bea Cukai tengah memeriksa dokumen, sementara truk kontainer perlahan bersiap untuk berangkat.
Di sinilah cerita itu dimulai — dari sebuah ruko sederhana di Bekasi, menuju negeri empat musim yang jaraknya ribuan kilometer dari tanah air.
PT Asha Nouva International, salah satu Industri Kecil Menengah (IKM) binaan Bea Cukai Bekasi kembali berhasil mengekspor aneka produk pertanian ke Jepang. Selain lengkuas komoditas pertanian lainnya seperti daun kunyit, jengkol, kelapa parut hingga daun salam.
Dengan nilai ekspor USD 13.622 dan berat 4.7 ton komoditas pertanian tersebut dikemas dalam 350 karton dan dikirim dalam 1x 20 feet kontainer. Di tengah ketatnya peraturan ekspor di negeri Sakura tidak mudah untuk menembus pasar Jepang, namun dengan kolaborasi dan dukungan berbagai pihak, tantangan tersebut bisa ditangani.
 |
| Salah satu komoditas yang diminati di negeri Sakura |
Ternyata orang Jepang doyan Jengkol guys, keren ga’ sich..?!Zubhan Mone selaku pendiri PT. Asha Nouva International, telah berhasil mengirimkan tiga kali pengiriman komoditas pertanian ke Jepang. Ia mengatakan bahwa, diperlukan dukungan pihak pemerintah lintas instansi agar hambatan tersebut bisa diatasi.
“Kami mengharapkan agar sinergi antarlini pemerintah kepada para pelaku IKM dan UMKM dalam bentuk dukungan berbagai program yang dijalankan memudahkan kami menembus pasar mancanegara, termasuk Jepang,” ujar Zubhan.
Bea Cukai Bekasi melakukan pendekatan yang berbeda dalam mendorong UMKM lokal mengglobal. Pendekatan bersifat pentahelix yang melibatkan kolaborasi berbagai unsur antar bidang dan pihak mulai dari pihak academic, business, community, government, dan media.
Informasi yang didapat dari berbagai sumber. Kepala Kantor Bea dan Cukai Bekasi menyampaikan, untuk meningkatkan kinerja ekspor IKM dan UMKM diperlukan program kolaboratif antara Kementerian Keuangan dalam hal ini dimotori oleh Bea Cukai Bekasi, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan dari unsur pemerintah serta LPEM FEB UI dari unsur akademisi. Sinergi antar pihak telah berhasil mendukung pemberdayaan IKM dan UMKM menuju globalisasi.
PT Asha Nouva International, UMKM yang sebelumnya hanya memasok kebutuhan lokal, kini telah menjadi eksportir komoditas pertanian yang produknya dinantikan di Jepang. Dalam satu kali pengiriman saja, total 4,7 ton barang diangkut menuju pelabuhan, sebuah pencapaian besar bagi usaha yang bertahun-tahun dibangun dari bawah.
Isi kontainernya pun terdapat berbagai rempah. Ada lengkuas telah diiris dan dikeringkan, daun kunyit, kelapa parut, daun salam, hingga komoditas jengkol. Namun siapa sangka, bahan-bahan ini justru memiliki pasar tersendiri di Negeri Sakura. Restoran Indonesia di Jepang mengandalkan suplai rutin, supermarket Asia membutuhkan bahan baku industri makanan Indonesia.
Keberhasilan ini tentu tidak terjadi dalam semalam. Para pelaku UMKM seperti PT Asha Nouva International harus melewati proses panjang — mulai dari memenuhi standar kualitas Jepang yang terkenal ketat, memastikan kebersihan produksi, menjaga konsistensi pasokan, hingga menghadapi tumpukan regulasi ekspor.
Di sinilah Bea Cukai Bekasi memegang peran penting. Melalui pembinaan yang rutin, sosialisasi regulasi, hingga pendampingan dokumen ekspor, instansi ini memberi jalan agar usaha kecil seperti Asha Nouva dapat melangkah lebih jauh. Bagi mereka, setiap UMKM yang berhasil ekspor bukan hanya soal bisnis, tapi juga bukti bahwa potensi lokal bisa berdaya saing global.
Menurut Bea Cukai, keberhasilan ini adalah sinyal kuat bahwa sektor pertanian Bekasi menyimpan peluang besar. Selama dikelola dengan profesional dan didukung moda logistik yang tepat, komoditas seperti ini bisa bersaing dengan produk luar negeri lainnya.
Dan hari itu, ketika pintu kontainer ditutup rapat dan truk mulai bergerak meninggalkan halaman, ada rasa bangga yang sulit dijelaskan. Bukan hanya bagi pemilik usaha, tetapi bagi seluruh pihak yang terlibat — petani, pekerja gudang, staf administrasi, hingga pihak pembina.
Bekasi pun kembali menorehkan cerita bahwa kerja keras UMKM bukan hanya menghidupkan dapur keluarga, tapi bisa mengangkat nama daerah sampai ke pasar internasional. Dari jengkol sampai rempah, semuanya berbicara tentang satu hal: mimpi yang terus tumbuh dan berani melangkah lebih jauh.
Strategi / Tips yang membuat PT Asha Nouva International bisa sukses ekspor:
Kerjasama & Kolaborasi dengan Pemerintah / Instansi — PT Asha Nouva International dibina oleh Bea Cukai Bekasi. Dukungan regulasi, fasilitasi ekspor, serta pendampingan administratif sangat penting untuk membantu menembus pasar Jepang.
· Versifikasi Produk & Fokus pada Komoditas Tradisional/Rempah dan komoditas pertanian seperti lengkuas, daun kunyit, jengkol, daun salam, kelapa parut — yang punya potensi pasar luar negeri, terutama Jepang.
· Kualitas, Kepatuhan Regulasi & Kemasan Ekspor — Mengingat pasar tujuan (Jepang) memiliki regulasi ketat, bisnis ekspor seperti ini harus menjaga standar mutu, dokumentasi, pengemasan, dan pemenuhan regulasi agar bisa lolos. Hal ini disampaikan langsung oleh pemilik ketika menjelaskan tantangan ekspor.
Kemitraan dengan Komunitas Lokal (misalnya program budidaya bersama komunitas/kelompok lokal) — Membina kerja sama dengan PKK Kota Bekasi untuk budidaya daun salam dan produk pertanian lain agar supply bahan baku stabil.
Yang ingin mengikuti jejak atau sekedar sharing PT Asha Nouva International silahkan datang ke lokasi usahanya Ruko Palazzo, Jl. Mutiara Gading Timur Blok R9 No. 46, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat 17158.